Cerita Sex
di Pantai

Kejadiannya
pada acara tahun baru 2015, aku sedang berlibur di pantai, di pulau Lombok. Aku
berlibur bersama Mbak Santi. Kenapa aku panggil mbak.., karena umurnya tidak
terpaut jauh, kami hanya berbeda 3 tahun. Yang membedakan kami hanyalah status
sosialnya saja. Mbak Santi adalah seorang eksekutif muda yang bergelut dibidang
pialang bursa saham di Jakarta, sementara aku masih mulai merintis di pekerjaanku
yang baru. Mungkin dari tingkat jabatan, aku lebih tinggi, seorang general
manager perusahaan swasta, sementara Mbak Santi hanya pialang saja. Akan tetapi
jangan tanya soal pendapatan, bawaannya saja mobil Honda Estillo silver
metalik, sementara aku jangankan mobil, tempat tinggal saja masih kost.
Perbedaan
yang lain adalah, Mbak Santi sebelum kerja memang sudah berasal dari keluarga
yang berada walaupun tidak kaya sekali tetapi yang pasti seluruh saudara
kandungnya membawa mobil satu-satu dan yang terjelek adalah kijang jantan 1996.
Oh ya, Mbak Santi 4 bersaudara, Mbak Santi anak kedua, yang tertua laki-laki
sudah berumah tangga dan sedang sekolah S2 di Australia, yang nomor tiga
perempuan Ratih namanya, masih kuliah di perguruan swasta di Bandung, sementara
yang terakhir juga perempuan Luluk panggilannya, nama persisnya aku tidak tahu
dan sudah kuliah pula di perguruan swasta Jakarta. Perkenalanku bermula tanpa
sengaja ketika ada sebuah acara di hotel Mulia Senayan. Aku menemani bosku
dalam sebuah meeting dengan tamu dari Singapura, sementara Mbak Santi juga
sedang santai dengan teman prianya di sudut cafe lantai dasar hotel tersebut.
Ketika aku sedang mencari kamar kecil kebetulan Mbak Santi juga sedang menuju
ke sana. Perkenalan yang basa-basi, dan saling melempar senyum. Akhirnya aku
memberanikan diri membuka percakapan. “Sedang santai sepulang kerja Mbak..”
“Oh.. iya, refreshing lah Mas.. seharian sibuk.” “Oooh.. di sekitar sini
kerjanya?” timpalku sekenanya. “Betul, cuma ya.. bukan kerja kantoran gitu lho
Mas.” “Swasta maksudnya Mbak?” “Bukan.. artinya ya.. cari-cari klien yang mau
main di efek.” “Oh ya.. pialang begitu?” Aku langsung tanggap dengan jenis
pekerjaannya. “Mas sendiri.. maaf dari Jawa ya.. kok logatnya bukan Betawi?
Aduh sorry kok jadi menuduh gini?” “Tepat.. wah hebat nih Mbak..” “Santi..”
balasnya langsung memperkenalkan diri dan meneruskan masuk ke kamar kecil. “Oh
ya saya Sakti, memang baru di Jakarta, namanya tuntutan hidup Mbak..”
Sekeluarnya aku dari kamar kecil dan tidak lama kemudian diikuti Mbak Santi
dari kamar kecil sebelahnya. Sopan sekali. Tidak kebanyakan warga ibu kota yang
acuh tak acuh, dengan tidak bermaksud basa-basi, Mbak Santi benar-benar
menawarkan untuk bergabung dalam acara santainya bersama teman prianya. “Maaf Mbak..
mungkin lain waktu, karena saya bersama tamu di sini dari Singapura..” maksud
hati tidak untuk menolak, tetapi mau diapakan tamuku? “OK, ini nomor HP saya,
tolong Mas kalau punya kenalan yang ingin main efek, nanti biar aku yang
prospek, Mas Sakti cukup kenalkan saja siapa temannya, aku yang akan
menghubungi beliau.” Cekatan sekali, begitulah pialang mencari klien, batinku..
dan tangannya halus sekali.. dan bau parfumnya khas sekali. Matanya bulat utuh,
wajahnya manis walaupun tidak bisa dikatakan cantik sekali, rata-rata atas.
Bibirnya.. penuh. Hidungnya.. simetris dengan mata dan bibirnya. Wow.. bakat
alamku mulai timbul, mungkin karena dua bulan aku “puasa” dari kebiasaanku
melayani tante, mbak, ibu, dsb, yang selama ini menginginkan petualanganku. Empat
hari berselang dari pertemuan itu, aku bertemu dengan kawan lamaku semasa SMA
dulu yang kini sudah sukses, ayahnya memiliki kapal tanker, dan anaknya
bergelut di bidang perusahaan IT. Aku jadi ingat Mbak Santi untuk menawarkan
bisnis yang digelutinya. Singkat cerita temanku tertarik dan Mbak Santi
kuhubungi. Heran! Aku pikir dia lupa denganku, ternyata seperti sudah menjadi
kawan lama sekali dengan lancar dia menyapaku di HP, akrab sekali. Akhirnya
niat itu kusampaikan dan Mbak Santi berjanji untuk melanjutkannya. Dua minggu
tanpa kabar berita, Mbak Santi menghubungiku di HP, saat itu aku di Jawa Timur
dalam rangka tugas kantor. Dari nadanya tampak ada kabar gembira. “Mas di mana
nih.. hey.. aku mau traktir nih, temenmu itu gila ya!” teriaknya di HP. “Sabar
Mbak.. ada apa sih.. aku di Jawa Timur nih!” balasku. “Ups.. sorry, aku pikir
di Jakarta.. kapan balik?” “Dua hari lagi.” “OK, aku call dua hari lagi.”
Selasa, hari itu Mbak Santi menepati janjinya menelponku, “Mas nanti kita makan
malam yuk di Tony Romas Rib’s and Steak.. aku dapet rejeki gede nih.. siapa
lagi kalau bukan buying dari Mas Anton.” Anton adalah teman yang kutawarkan
tersebut. “Ya.. temen Mas itu gila.. beli saham PT Xxx, Tbk sampai 1000 slot,
dan dapat margin hampir 200 juta, gila ya.. yang untung aku, kebagian 2,5%, dan
aku mau traktir Mas Sakti nih.” Jam 7:30 malam aku ketemu Mbak Santi di Tony
Romas yang sudah menunggu 15 menit lebih awal. Kita langsung memesan makanan
termahal di sana. Maklum aku tidak pernah mengunjungi restorant macam itu, jadi
aku ngikut aja. Sambil makan kita ngobrol dan semakin akrab saja. Makan
berakhir pukul 9 kurang 10 menit. Dan aku diajak putar-putar (maklum tidak bawa
kendaraan). Diajaknya aku ke cafe Semanggi, jam 11 malam aku diajak ke
“Bengkel” dekat dari Semanggi. “Mas udah punya pacar belum?” “Punya..” jawabku
sekenanya. “Wah nanti nggak dicariin pacarnya kan?” goda Mbak Santi. “Ya
dicariin sih, tapi aku sudah bilang ada janji ketemu kamu.” “Lho kok nggak
cemburu sih..” Mbak Santi makin memanjakan suaranya, sepertinya pengaruh
alkohol dan musik mulai merasuki Mbak Santi. “Kenapa mesti cemburu, dia sudah
tahu aku luar dalam kok.” “Maksudnya?” “Maksudnya kami sudah biasa begini” “Wah
gawat tuh pacarannya..” Mbak Santi coba menyindirku. “Emangnya Mbak Santi
sendiri gimana?” aku coba mengimbangi pembicaraan seiring musik yang semakin
memekakkan telinga. “Ha.. ha.. ha.. sama dong.. gue sih easy going aja Mas.”
“Udah nggak virgin dong?” komentarku tanpa basa-basi. “Lha emang masih perlu..
aku sejak SMA udah nggak lagi.. Mas ini bisa aja, abis enak sih..” Sepertinya
sudah tidak ada batas lagi pembicaraan kami, dan langsung saja kebiasaan
burukku muncul, “Lalu kalau sama aku gimana.. mau coba nggak?” “Kenapa nggak?
emang Mas berani?” “Sebutkan saja kapan? I’ll be there..” Akhirnya malam itu
kami selesaikan dengan petting di mobil Mbak Santi. Mbak Santi yang memulai
lebih dulu dengan mengelus-elus bagian depan celanaku tepat di reitsletingku.
Dan kami berciuman tipis sambil memainkan lidah masing-masing. Burungku mulai
bereaksi, dan Mbak Santi mengerti perubahan yang terjadi di “bagian” itu.
Caranya membuka reitsletingku seperti tanpa hambatan sama sekali.. mahir dan
perlahan. Kini celana dalam “Crocodille” ku sudah tampak dan menonjol.Belum
kusentuh payudaranya yang padat dengan ukuran bra 34 Cup B, tanganku
dituntunnya untuk meraba dan mengelus payudaranya. Aku mencoba untuk
menyelipkan beberapa jariku masuk melalui bagian belakang. Aku tidak menemukan
kancing pengaitnya! Mbak Santi mengerti, dan dengan tangan kirinya, dia melepas
kaitan BH-nya yang ternyata disebelah depan, maka tumpahlah payudara yang putih
mulus itu. Padat dan berisi, kencang dan putingnya keras tanda Mbak Santi sudah
terangsang dengan “French kiss” ku yang aku dapat dari Mbak Vian. (Baca kisah gelora
di kolam renang). Cukup lima menit kami ber-”French kiss”, kemudian dilanjutkan
dengan memainkan ujung putingnya dengan ujung lidahku, sementara Mbak Santi
menengadahkan kepala tanda beraksi. Aku jilat perlahan, sambil sesekali
tanganku yang satunya meremas sebelah payudaranya. Semakin lama semakin kencang
dan erangan Mbak Santi mulai terdengar. Sementara itu, sedari dari kedua
tangannya sudah meremas-remas batang kemaluanku yang kaku dan mengeras.
Genggamannya tidak cukup untuk meremas kemaluanku. Tidak besar, hanya saja
tangannya yang mungil tidak cukup penuh menggenggam batang kemaluanku. Jari
tengah Mbak Santi digerak-gerakkan kecil mempermainkan kepala kemaluanku yang
sudah penuh mengembang. Ada perasaan geli dan bernafsu di bagian tersebut. Dari
cara mempermainkannya, aku dapat membayangkan kemahirannya dalam bercinta. Kini
kedua payudaranya sudah lembab oleh kuluman dan hisapan bibirku yang penuh
nafsu, dan Mbak Santi segera membungkukkan badannya dan burungku dijilatnya
seperti menjilat ice crem. Ya.. tidak dihisap tetapi dijilat. Wow.. nikmat
sekali. Jemarinya mempermainkan pangkal batang kemaluanku sambil mengurai-urai
rambut kemaluanku yang lebat. Desir AC mobil tidak membantuku menghentikan
keringat yang mengucur menahan gejolak birahi. Lima menit Mbak Santi
mempermainkan seluruh permukaan kemaluanku dari telur kemaluan, pangkal
kemaluan, batang kemaluan hingga kepala kemaluanku dengan lidahnya yang hangat.
Basah sudah seluruh kemaluanku, tiba-tiba mulut Mbak Santi membuka dan
dihisapnya secara perlahan kemaluanku dimulai dari kepala, “Oogghh my God!!
Perlahan
semakin dalam hingga berhenti di tengah-tengah batang kemaluanku. Dan.. di
bagian itu, burungku kembali dipermainkan, bahkan terasa lidahnya kembali
melumat sisa kemaluanku yang masuk ke dalam mulutnya, sementara bibirnya tetap
berhenti di tengah batang kemaluanku. “Oouuttchh..” luar biasa, sampai di sini,
aku berkeyakinan kalau air maniku siap tersembur, tetapi sepertinya Mbak Santi
memang ahli dibidang ini, tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil tetap diam
menghisap, sehingga seolah-olah burungku tertekan oleh sebuah lubang tepat
diakhir kepala kemaluanku, dan rupanya ini sangat membantu menghentikan
keluarnya air maniku. Baru sesaat kemudian, dengan cepat seluruh batang
kemaluanku habis terbenam di mulutnya, dan aku melihak ekspresi wajahnya,
seluruh mulutnya penuh dengan kemaluanku. Barulah seperti biasa yang kualami
dalam oral sex, mulut Mbak Santi maju mundur menghisap, menjilat, mengulum
sekenanya dan sebisanya, sensasi yang luar biasa karena tertahannya air maniku
membuat aku cukup lama bisa bertahan di permainan ini. Wow.. thank’s Mbak
Santi. Sekitar lima menit aku membisikkan ke telinga Mbak Santi kalau aku sudah
nggak kuat dan siap memuntahkan cairan kenikmatan. Mbak Santi hanya mengedipkan
mata dengan tidak berhenti mengulum batang kemaluanku yang penuh di mulutnya.
Tiba-tiba, air mani itu keluar tepat di ujung tenggorokan Mbak Santi, entah
bagaimana caranya Mbak Santi bisa memperkirakan dengan tepat kapan maniku
keluar, sehingga, sekilas aku melihat ekspresi Mbak Santi memejamkan mata dan
tidak kulihat air maniku tercecer keluar dari mulutnya. Beberapa detik berlalu,
Mbak Santi melonggarkan kulumannya sambil lidahnya menelusuri seluruh permukaan
batang kemaluanku untuk membersihkan sisa lendir mani yang masih ada, dan
kepala kemaluanku dihisapnya kencang agar tak tersisa lagi cairan yang menetes.
Luar Biasa.. That’s what a wonderfull experience. Keheningan melanda kami
berdua, kemudian aku membuka pembicaraan “Maaf Mbak aku belum sempat mencicipi
itu..” sambil menunjuk lubang kenikmatan Mbak Santi yang memang tidak tersentuh
sama sekali. “Memang sengaja belum aku tunjukkan karena memang aku sisakan
untuk pertemuan berikutnya Mas..” suara Mbak Santi manja. Sejak saat itu,
secara rutin dua minggu sekali kami berkencan, dimana saja, villa, hotel,
mobil, kamar di rumahnya. Tapi satu yang belum kurasakan adalah lubang
kenikmatan Mbak Santi! Just she played me with her oral! Hingga akhirnya Mbak
Santi menawarkan acara tahun baru di pulau Lombok. “Sakti.. mau merasakan yang
satu.. itu kan?” tawarnya menggoda. Akhirnya kami bertiga, aku, Mbak Santi dan
adiknya yang terakhir Luluk berlibur ke Lombok. Di sana kami menyewa sebuah
bungalow di pinggir pantai yang masih perawan, bahkan tempat kami menginap
sengaja dibikin tidak ada sarana listrik dan komunikasi. Memang setting daerah
wisata ini menonjolkan keasrian lingkungannya. Tepat malam tahun baru, setelah
kami puas bermain di pantai yang juga masih perawan, di sana kami menjumpai
banyak cewek bugil dan tidak seperti di Bali, di sini pemandangan lebih erotis
dan alami! Segera kami menuju kamar masing-masing. Luluk rupanya sudah mengerti
apa yang terjadi diantara kami berdua. Sehingga dia asyik dengan dunianya
sendiri. Segera kami melucuti pakaian kami satu persatu, terkesan tidak
romantis dan tergesa-gesa tetapi buat apa romantis segala, toh kami bukan
sepasang kekasih, kami hanyalah ingin saling memuaskan nafsu diantara kita
berdua yang sudah lama terpendam! Baru saat itu dikeremangan lampu minyak, aku
melihat tubuh yang sensual tanpa sehelai benang pun. Ternyata apa yang
kubayangkan selama ini, jauh dari kenyataan. Mbak Santi adalah wanita terseksi
yang pernah bercinta denganku selama ini, tidak juga Anggi, tidak juga Mbak
Vian, dll. Kami langsung bergumul, bercumbu dan saling meremas. Tubuhnya hangat
dan lembut, vaginanya harum sekali, tidak seperti kebanyakan wanita yang
bercinta denganku, Mbak Santi lebih suka memulai lebih dulu untuk memacu
nafsuku, barulah aku mengimbanginya. Kini tiba saatku untuk menyentuh, mencium,
melumat dan menjilat vaginanya yang selama ini tidak dapat aku jangkau! Bukan
main, terawat sekali! Rambut vaginanya halus dan lembut, bibir vaginanya rapat
dan simetris. Aku sempat tidak percaya bagaimana wanita yang suka dengan sex
tetapi vaginanya tertutup rapat! Aku mencoba memainkan ujung lidahku untuk
memulai membuka bibir vaginanya. Dan baru kali ini aku mendengar erangan Mbak
Santi lain dari biasanya kami bermain. Sementara seluruh kemaluanku sudah basah
oleh permainan mulutnya. Kejadian foreplay ini berlangsung kurang lebih
setengah jam. Secara perlahan mulai kurasakan vagina Mbak Santi yang harum
mengeluarkan cairan dan membasahi dinding bagian dalam vaginanya yang seksi dan
menggoda. Aku semakin intents dan lebih menekan lidahku untuk mencari
titik-titik rangsangan yang ada di dinding vagina Mbak Santi. Cairan itu mulai
rata membasahi hingga bibir luar vaginanya. Kini Mbak Santi sudah sepenuhnya
dalam rangsangan seksual yang memuncak. Lima menit kupermainkan vaginanya yang
seksi, dari bibir luar, bibir dalam, klitoris hingga dinding dalam vaginanya.
Dan Mbak Santi sudah terengah-engah untuk segara mengakhiri permainan ini.
Perlahan kemaluanku digenggamnya dan diarahkan ke bibir vaginanya hingga
menyentuh klitorisnya. Mbak Santi tidak ingin terburu-buru, dan mencoba untuk
sekedar menggesek-gesekan klitorisnya dengan ujung kepala kemaluanku. Perlahan
dan semakin cepat gesekan itu membuat burungku merasakan cairan yang licin
merambat di batang kemaluan bagian bawah hingga menyentuh telur kemaluanku.
Rupanya rangsangan seksual yang dicari Mbak Santi sudah mulai menjalar dan
tidak dapat ditahan lagi. Dari tatapan matanya, rupanya Mbak Santi memberikan
ijin untuk memasuki daerah terlarang yang sudah basah oleh cairan vagina
tersebut. Perlahan mulai kuhujamkan kepala burungku yang memang berukuran besar
(itu pengakuan dari semua wanita yang bercinta denganku), seperti dugaanku,
rupanya agak sulit juga memasuki daerah tersebut, rapatnya bibir vagina Mbak
Santi membuktikan bahwa ia rajin merawat vaginanya. Akhirnya dengan kesabaran
dan cairan vagina yang licin membantu kemaluanku perlahan menembus vaginanya,
dan terasa dinding vaginanya bergetar dan mengembang, sepertinya menyesuaikan
dengan ukuran kemaluanku yang berdiameter cukup besar walaupun tidak panjang.
Setelah diam sesaat, barulah terasa ada gerakan pinggul dari Mbak Santi tanda
mulai merespon ada benda aneh di dalam vaginanya, burungku tentu saja. Akhirnya
kami berdua seperti bergulat, dimulai dari gerakan kecil dimana aku mengayunkan
pantatku naik turun, sementara Mbak Santi memainkan pinggulnya sambil meregang
dan merapatkan kedua kakinya seolah ingin mencari posisi terbaik untuk burungku
bersangkar di dalamnya. Dan terus berlanjut semakin cepat aku menggesekkan
batang kemaluanku didinding vaginanya yang sudah licin. Gesekan ini membuat
rangsangan semakin hebat dan desahan Mbak Santi sudah tidak dapat ditahan lagi,
desahan dan erangan ini membikin aku jadi semakin bernafsu. Kami bertukar
posisi, dengan Mbak Santi berada di atasku tetapi menghadap membelakangi
tubuhku. Dengan gaya berjongkok, dipegangnya kemaluanku dan ditujukan di lubang
vaginanya yang sesekali tampak berkilat akibat sinar lilin yang ada di ruangan
kami. Permainan kedua ini lebih lancar dibanding yang pertama, karena ukuran
vaginanya sudah menyesuaikan dengan ukuran kemaluanku tapi dengan posisi ini
Mbak Santi dapat dengan leluasa mengatur seberapa dalam burungku masuk ke
vaginanya.. sesekali penuh, sesekali hanya sebagian saja, dan yang paling tahu
seberapa dalam burungku masuk hanya Mbak Santi yang tahu. Ketika suara erangan
semakin tidak beraturan, kembali Mbak Santi mengubah posisi, kali ini kami
rebahan menyamping, dan aku ada di belakang Mbak Santi, burungku masih tetap di
dalam, dan kini aku yang lebih aktif menggerakkan pantatku memasuk dan
keluarkan kemaluanku menggesek-gesek dinding vaginanya yang masih basah. Sejak
menembus vaginanya hingga permainan ini, kira-kira sudah berlangsung 30 menit
dan belum ada tanda-tanda Mbak Santi orgasme, sementara aku sudah tidak kuat
lagi. Akhirnya, kuberanikan diri untuk mempercepat gesekanku dengan posisi
doggy style, barulah Mbak Santi mengerang sekncang-kencangnya. Aku yakin Luluk
mendengar desahan kami berdua. Tetapi aku juga nggak mau kalah, gesekan
kemaluanku semakin keras dengan menusuk vaginanya, tetapi gerakan dengan
perlahan, karena aku melihat Mbak Santi sudah tidak teratur gerakannya, tanda
mencapai orgasme, dan aku juga tidak perlu mempercepat gesekan karena akan
semakin mengganggu puncak orgasme kita berdua. Dengan tusukan yang keras tetapi
gerakan perlahan akan semakin terasa penuh di dinding vaginanya sementara
dipihakku sendiri, akan semakin terasa jepitan dinding vaginanya akan menyempit
dan meremas burungku, sehingga proses orgasme kami terasa full dengan ekspresi
kami berdua. Kami berdua terbaring dan melewatkan malam tahun baru dengan
bercinta terlama yang pernah kualami, bayangkan kami bercinta selama setahun,
dari jam 10:15 malam tanggal 31 Desember 2014 hingga 1:30 pagi tanggal 1
Januari 2015, itu berarti permainan kami selama setahun? Paginya kami main di
pantai dan Luluk membisikkan sesuatu di telingaku, “Hayoo.. Mas Sakti semalam
ngapain aja kok lama banget, orang begituan kan nggak selama itu.. aku denger
lho apa aja yang terjadi.! Boleh nggak Luluk coba?” bisiknya nakal penuh arti.
Tamat

jangan segan2 berkunjung kembaLi ya sobat
EmoticonEmoticon