6 tahun yang lalu aku resmi bercerai dengan suamiku, karena dia tak bertanggung jawab dan berpaling pada wanita lain. Kalau kuingat saat itu, betapa hatiku terasa hancur berkeping. Setelah mengetahui kalau suamiku tak setia dan main gila dengan wanita lain di belakangku.
![]() |
Semenjak aku menjanda, aku sudah tak
mau berkenalan dengan laki-laki manapun, karena aku takut jatuh hati
dan hal yang telah aku alami terulang lagi. Karena kupikir setiap lelaki
itu sama saja, suka menyakiti perasaan wanita yang begitu lembut, dan
suka meremehkan wanita.
Akhirnya aku sangat benci pada
laki-laki. Aku tutup pintu hatiku untuk setiap lelaki yang menaruh hati
padaku. Bahkan boleh dikatakan rasa cintaku sudah mati dan kukubur dalam
dalam. Hal seperti itu sampai berlangsung lima tahun. Sampai akhirnya,
aku mengenal seorang lelaki keturunan India, Roy namanya.
3 tahun lamanya sudah aku mengenal
dia, tapi hanya sebatas kenal saja. Aku sangat kagum dengan
penampilannya. Setiap gerak gerik dan segala tingkah lakunya sungguh
membuatku ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Kejujuran dan tingkah
lakunya yang sopan dan juga tutur sapanya yang lembut sungguh membuatku
semakin kagum padanya.
Lama kelamaan seperti ada perasaan
yang lain di hatiku. Seakan-akan ada bara asmara yang timbul di hatiku.
Perasaan asmara yang sekian lama mati kini perlahan-lahan mulai bangkit
kembali. Apabila aku sedang melihat Roy, hatiku terasa begitu syahdu,
dan kalau lama tak melihat dia hatiku terasa sangat rindu.
Aku sangat heran, kenapa bisa jadi
begini. Aku sudah berusaha membuang perasaan asmaraku pada Roy, tapi aku
tak mampu. Kebaikan dan kejujuran Roy telah mampu membangkitkan
asmaraku yang telah sekian lama mati. Lama kelamaan benih-benih asmara
di hatiku tumbuh dengan suburnya, sehingga aku tak mampu membendungnya
lagi.
“Apakah Roy juga merasakan seperti yang aku rasakan?”, batinku bertanya tanya.
Akhirnya kuputuskan untuk
mengirimikan email padanya. Ternyata emailku mendapat jawaban seperti
yang aku harapkan. Aku gembira sekali karena aku mendapatkan tanda lampu
hijau. Sungguh aku tak menyangka messageku mendapat sambutan hangat.
Maka di setiap kesempatan aku selalu saling berkirim email dengan Roy.
Kata-kata manis dan mesra juga kata-kata asmara dan hasrat selalu kubaca
di mailbox-ku. Perkataan cumbu rayu saling membalas.
Sampai suatu hari di rumah Roy,
tepatnya di Hayes, keadaan di rumahnya sangat sepi dan sunyi. Hanya aku
dan Roy saja. Saat itu pukul sepuluh pagi. Aku dan Roy berada di ruang
tamu. Kami berdua mengobrol ngalor ngidul dan akhirnya Roy memasukkan
DVD. Dia memasukkan film porno yang berjudul ‘Ice Woman’.
Aku duduk di karpet dekat Roy,
sambil menyaksikan permainan di layar televisi. Setelah kurang lebih
sepuluh menit film berputar, aku melihat duduk Roy mulai gelisah. Aku
merapatkan dudukku ke Roy. Kini aku dan dia duduk sangat rapat, dan
sekarang tangan Roy mulai nakal, jari-jarinya mulai merayap ke dadaku
dan akhirnya menyusup ke balik bajuku, kemudian menyusup ke dalam BH-ku
mencari puting payadaraku.
“Mifta, sudah lama aku ingin bercinta denganmu sayang?” katanya penuh nafsu.
“Aku juga Roy” kataku.
“Mifta sayang, bolehkah aku minta tubuhmu sekarang?” katanya.
“Tentu saja Roy, aku kan juga menginginkan kamu?” jawabku.
“Aku buka pakaianku ya?” katanya.
“Baiklah sayang” kataku.
“Aku juga Roy” kataku.
“Mifta sayang, bolehkah aku minta tubuhmu sekarang?” katanya.
“Tentu saja Roy, aku kan juga menginginkan kamu?” jawabku.
“Aku buka pakaianku ya?” katanya.
“Baiklah sayang” kataku.
Kemudian Roy melepaskan pakaiannya
satu persatu termasuk CD-nya, sehingga dia kini sudah telanjang bulat.
Betapa mataku sangat terbelalak ketika melihat kontol Roy yang sudah
berdiri dengan gagahnya dan juga sangat besar. Bulu kudukku merinding
takut, melihat besarnya kontol Roy itu. Dan aku tertegun sejenak.
“Ada apa mifta?” katanya.
“Tidak ada apa apa” jawabku gugup.
“Aku buka pakaian kamu ya?” katanya.
“Silakan sayang” kataku.
“Tidak ada apa apa” jawabku gugup.
“Aku buka pakaian kamu ya?” katanya.
“Silakan sayang” kataku.
Kemudian Roy melepaskan pakaianku
satu persatu, termasuk BH dan CD-ku, sehingga aku sekarang telah
betul-betul bugil. Tangan kanan Roy terus mempermainkan puting
payudaraku, sedangkan tangan kanannya mempermainkan klitorisku. Lidah
Roy tak tinggal diam, dia terus beraksi menjilati leherku dengan sangat
lihai sekali. Aku tak tinggal diam, tanganku melingkari kontol Roy yang
besar dan mengocoknya. Tangan Roy terus menggelitik klitorisku, sehingga
membuat aku menggelinjang keenakan.
“Terus.. Roy, ee.. nak.. sekali rasanya Roy,” kataku tak karuan.
“Kocokanmu juga enak Mifta,” katanya juga.
“Kocokanmu juga enak Mifta,” katanya juga.
Rasa geli dan nikmat yang kurasakan betul betul membuatku tak tahan.
“Roy, masukkan sekarang ya? Aku sudah tak tahan?” pintaku.
“Baiklah Mifta, aku juga sudah tak tahan.” katanya.
“Baiklah Mifta, aku juga sudah tak tahan.” katanya.
Kemudian kontol Roy diarahkannya ke
memekku, tanganku membimbingnya supaya tak meleset. Sedikit demi sedikit
Roy menekan kontolnya ke memekku. Rasanya sedikit sakit, tapi bercampur
nikmat.
“Mifta, memekmu sangat seret dan enak sekali!” katanya.
“Apa betul Roy?” kataku. Memang memekku terlalu kecil untuk ukuran kontol Roy yang besar itu.
“Apa betul Roy?” kataku. Memang memekku terlalu kecil untuk ukuran kontol Roy yang besar itu.
Sungguh aku tak menyangka memekku yang kecil mampu menampung kontol Roy yang begitu besar.
Setelah kontol Roy masuk semuanya,
Roy mulai menggenjotnya perlahan-lahan. Aku pun ikut menggoyangkan
pantatku seirama dengan gerakan Roy. Kadang kadang aku memutar pantatku
sehingga rasanya lebih nikmat menurut Roy. Rasa enak dan nikmat yang
kami rasakan sungguh tiada bandingannya. Sedikit demi sedikit Roy
mempercepat gerakannya dan nafasnya mulai terengah-engah tak teratur.
Aku pun tak tinggal diam, kuangkat pinggulku supaya kontol Roy dapat
masuk lebih dalam.
“Mifta, aku tak tahan dan mau keluar,” katanya.
“Sebentar ya? Aku juga mau sampai,” kataku. Kemudian kami saling berpacu dan akhirnya..
“Mifta, aku keluar,” katanya.
“Aku juga, kita keluarkan sama sama ya?” pintaku.
“Kamu siap?” tanyanya.
“Ya, aku siap,” jawabku.
“Sebentar ya? Aku juga mau sampai,” kataku. Kemudian kami saling berpacu dan akhirnya..
“Mifta, aku keluar,” katanya.
“Aku juga, kita keluarkan sama sama ya?” pintaku.
“Kamu siap?” tanyanya.
“Ya, aku siap,” jawabku.
Lalu akhirnya kami sama sama
mencapai nikmat yang selama ini belum pernah kami rasakan. Kami berdua
sama-sama lemas, seakan kehabisan tenaga. Lalu kami beristirahat
sejenak, baru kemudian tangan Roy mulai nakal lagi. Dia mulai
mempermainkan putingku sehingga nafsuku kembali bergairah. Bibir kami
kembali berpadu, dan tangan kami sama sama liar. Kontol Roy sudah
berdiri tegak lagi bagai pentungan yang siap memukul mangsa.
“Mifta, aku mau lagi sayang?” pintanya.
“Aku juga Roy,” jawabku setuju.
“Aku juga Roy,” jawabku setuju.
Roy kembali mengarahkan kontolnya ke
memekku lagi. Tanganku kembali membantunya supaya lebih mudah masuk.
Setelah kontol Roy betul betul masuk, Roy mulai menggenjotnya. Kali ini
genjotan Roy lebih bersemangat. Setelah sepuluh menit Roy menggenjot
kontolnya, Roy membalikkan tubuhku.
“Ganti posisi ya Mifta? Aku sedikit letih.” katanya.
“Baiklah Roy, aku bersedia,” jawabku. Kemudian aku menggerakkan pinggulku ke atas dan ke bawah, kadang kadang kuputar-putar.
“Aauuhh.. Mifta.. Enak.. Sekali,” kata Roy.
“Baiklah Roy, aku bersedia,” jawabku. Kemudian aku menggerakkan pinggulku ke atas dan ke bawah, kadang kadang kuputar-putar.
“Aauuhh.. Mifta.. Enak.. Sekali,” kata Roy.
Aku terus menggoyangkan pinggulku ke
atas dan ke bawah tanpa menghiraukan racauan Roy. Kali ini kami berdua
sama-sama bertahan lebih lama. Setelah aku letih berada di atas, kini
kami mengubah style.
“Mifta, style doggy ya?” pintanya.
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau mari kita coba,” jawabku.
“Baiklah, kalau itu yang kamu mau mari kita coba,” jawabku.
Kami melakukan gaya doggy, ternyata
gaya ini rasanya sangat enak dan nikmat sekali. Dulu aku tak pernah
melakukan gaya seperti ini. Roy terus menggenjot kontolnya dengan begitu
bersemangat.
“Roy, kontol kamu enak sekali,” kataku.
“Apa benar Mifta?” jawabnya.
“Memang ini benar, dan aku tak bohong,” jawabku.
“Apa benar Mifta?” jawabnya.
“Memang ini benar, dan aku tak bohong,” jawabku.
Rasa nikmat yang kurasakan semakin
memuncak. Genjotan Roy pun semakin tak karuan, sekarang gerakan Roy
sudah mulai cepat. Aku pun menggerakkan pinggulku seirama dengan gerakan
Roy. Akhirnya Roy mencabut kontolnya dari memekku, dan memintaku
telentang. Setelah aku telentang, Roy naik ke atasku dan kembali
memasukkan kontolnya ke memekku dan menggenjotnya. Kini genjotan Roy
semakin mantap dan terasa sangat dalam dan sangat enak sekali. Roy
mempercepat gerakannya.
“Mifta, aku mau sampai,” katanya.
“Aku juga Roy,” jawabku. Kami berdua berpacu dalam nikmat, dan akhirnya..
“Aku keluar lagi sayang,” katanya.
“Aku juga Roy,” jawabku.
“Aku juga Roy,” jawabku. Kami berdua berpacu dalam nikmat, dan akhirnya..
“Aku keluar lagi sayang,” katanya.
“Aku juga Roy,” jawabku.
Akhirnya kami berdua sama sama
mencapai puncak kenikmatan dan keluarlah lahar dari kontol Roy juga dari
memekku. Dan kami berdua sama-sama lemas dan terkulai di atas karpet.
Setelah kami melepas lelah, kami pergi mandi supaya badan kami nampak
segar. Sehabis mandi, kami berdua duduk-duduk di sofa sambil berbincang.
“Mifta, kalau kapan kapan kamu mau, bilang saja ya?” kata Roy.
“Memangnya kamu mau lagi?” kataku.
“Ya pastilah! Siapa yang mau mau nolak nikmatnya memek kamu yang seret itu?” katanya.
“OK, kalau aku mau, aku akan beritahu kamu” jawabku.
“Memangnya kamu mau lagi?” kataku.
“Ya pastilah! Siapa yang mau mau nolak nikmatnya memek kamu yang seret itu?” katanya.
“OK, kalau aku mau, aku akan beritahu kamu” jawabku.
Akhirnya setiap ada kesempatan
selalu kupergunakan untuk bercinta dengan Roy. Kadang kadang seminggu
sekali dan kadang kadang lima hari sekali, aku bermain cinta dengannya.
Hal tersebut sampai sekarang masih tetap berlanjut.
Begitulah para pembaca, kejujuran
dan kelembutan perkataan Roy, mampu membangkitkan hasrat asmaraku yang
selama ini hampir musnah. Bahkan sudah hampir mati.
Buat Roy, kalau kamu kebetulan
sedang membaca ceritaku ini, semoga kamu mengetahui betapa aku sangat
cinta kamu, tapi aku tak pernah mengatakannya padamu, karena itu tidak
mungkin. Dan betapa aku selalu merindukanmu Roy! Roy, bacalah ceritaku
ini sambil hayatilah isinya. Dan baru kemudian kamu akan tahu isi yang
terkandung di dalamnya.
Dan bagi para pembaca, semoga kalian
sedikit terhibur dengan kisahku ini, walau tidak begitu seru. Aku
memang tidak pandai menambahi ataupun mengada-ada. Itu semua kutulis
menurut aslinya saja. Mungkin para pembaca sekalian kurang bernafsu di
saat membaca kisahku ini. Tapi hanya itu saja yang dapat saya
persembahkan untuk kalian semua.


jangan segan2 berkunjung kembaLi ya sobat
EmoticonEmoticon