Kisah saat aku berumur 19 tahun dan masih kelas 3 SMA, dimana bodyku yang langsing dan seksi membuat para cowok selalu memandangiku, karena aku juga sering olahraga jadinya badanku kencang , proposeional seperti model apalagi kulitku yang putih, cerita ini aku bagikan kepada semua karena memang aku pernah mengalami kejadian tersebut.
![]() |
Aku pertama mengenal seks dari
pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku
haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa
kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang.
Aku sangat jenuh dengan kehidupan
seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit
dan tak berkutik kehabisan tenaga.
Ketika itu aku belum diijinkan untuk
membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku
mempekerjakaan Bang Toha sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap
pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi
besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di
bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan).
Aku sering memergokinya sedang
mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim
di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga
dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam
abu-abu yang mini.
Begitu juga aku, aku sering
membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya
bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk
kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih
ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.
Obsesiku yang menggebu-gebu untuk
merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang
kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru bubaran pukul 3 karena ada
ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Toha sudah
menunggu.
Aku berpura-pura tidak enak badan
dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan
agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu
juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah
tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra
kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.
“Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok” hiburnya
Waktu itu dirumah sedang tidak ada
siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya
ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku
memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua.
Di kamar, dibaringkannya tubuhku di
ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat
kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat
posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing
atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga
kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap.
Walaupun memijat kepalaku, namun
matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan
disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku,
akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu
mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku
dari luar celana dalamku.
“Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.
“Tenang Non.. saya sudah dari dulu
kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat Non pake baju olahraga, duh
tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga” katanya merayu sambil terus
mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.
Toha mulai menjilati pahaku yang
putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya
perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat
mencengkram sprei dan kepala Toha yang terselubung rokku saat kurasakan
lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku
lalu menyentuh bibir vaginaku.
Bukan hanya bibir vaginaku yang
dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya
wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang
terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi
sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.
Sesaat kemudian, Toha menarik
kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku
ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat
kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku
yang tersingkap.
Dia dekap tubuhku dari belakang
dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai
permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang
satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak
tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas
daging kenyal di baliknya.
“Non, teteknya bagus amat.. sama
bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya giniin?” tanyanya dekat
telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.
Aku hanya menggelengkan kepalaku dan
meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Toha yang
merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini
bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup
bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas
payudaraku dengan putingnya yang mungil.
Aku merasakan benda keras di balik
celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Toha kelihatan sangat
bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan
terkadang memilin-milin putingnya.
Remasannya semakin kasar dan mulai
meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi
leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku
merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan.
Aku hanya bisa meresponnya dengan
mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada
dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam.
Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air
liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya
akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku
dengan gemas.
Pada awalnya aku menghindari dicium
olehnya karena Toha perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia
bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku
mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit
mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun
turut beradu dengannya.
Kami larut dalam birahi sehingga bau
mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani
memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Toha
melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka
celana berikut kolornya.
Maka menyembullah kemaluannya yang
sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu
besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan
dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku.
Dengan tetap memakai kaos
berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi
senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku
yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.
“Ayo Non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non” katanya.
Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya.
Sekilas tercium bau keringat dari
penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku
menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku
lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut
aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.
“Uaahh.. uueennakk banget, Non udah
pengalaman yah” ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya
yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet
putingku.
Setelah lewat 15 menitan dia melepas
penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme
sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena
mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar.
Dia berpindah posisi di antara kedua
belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku
disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang
satunya membimbing penisnya menuju sasaran.
“Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan” katanya.
Penisnya yang kekar itu menancap
perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan
merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang
masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos
vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik
teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi
oleh lendirku.
Toha memaksanya perlahan-lahan untuk
memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan
setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Toha
lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat
ditariknya lalu dimasukkan lagi.
Kini dia sudah berhasil memasukkan
setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua.
Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek
dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking
keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua.
Ini membuatku merasa sakit bukan
main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Toha yang sudah kalap
ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih
cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan
nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.
“Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.
Dengan tetap menggenjot, dia
melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang
kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan
indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak.
Dari posisi berlutut, dia
mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan
nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan
birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini
ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas
payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi
dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.
“Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang” desahku dengan mempererat pelukanku.
Aku mencapai orgasme dalam 20 menit
dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong
panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat, kukuku sampai menggores
punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air.
Setelah gelombang birahi mulai
mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, “Non cantik banget
waktu keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang,
saya bukain bajunya yah Non, udah basah gini”.
Aku cuma bisa mengangguk dengan
nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah
berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya
tidak kunyalakan. Toha meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir
adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang
tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang
melingkar di jariku.
Dia menelan ludah menatapi tubuhku
yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang
terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang
bersih terawat ini sambil menggerayanginya.
Kemudian dia balikkan tubuhku dan
menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan
vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Toha mendekatkan
wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia
menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya
membelai-belai punggung dan pahaku.
Mulutnya terus merambat ke arah
selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu
lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan
membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana
lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah
makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal
dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa
nikmat.
Di tengah-tengah desahan nikmat
mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku
menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya
lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir
merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku
hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada
dinding kemaluanku.
“Oouuhh.. Bang!” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.
Dia mulai mengayunkan pinggulnya
mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin
cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali
beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang.
Dia mencengkramkan kedua tangannya
pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan
kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman
yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba
dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga
ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke
pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan
permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya.
Aku mengangkat kedua tanganku dan
melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat
bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus
berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya
meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja
dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa
akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu
menusuk semakin dalam.
Mengetahui aku sudah diambang
klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang.
Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia
sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya
beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa.
Dia biarkan aku mencari kepuasanku
sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang
menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik
turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya
ke samping sehingga aku kembali berada di bawah.
Genjotan dan dengusannya semakin
keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga
kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat
meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku
mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga
keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.
Toha sendiri sudah mulai orgasme,
dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakun berdenyut
dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman
panjang dia cabut penisnya dari vaginaku.
Isi penisnya yang seperti susu
kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah
menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku
yang berlumuran sperma dan keringat.
Aku yang juga sudah KO hanya bisa
berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku
terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan,
pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari
biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di
dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.
Sejak saat itu, Toha sering
memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu
mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya
dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan
saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku.
Bahkan pernah suatu ketika aku
sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi,
tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12
malam dan ortuku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi
saking nafsunya dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek,
untung kamar ortuku letaknya agak berjauhan dariku.
Meskipun begitu aku selalu
mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku
dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau
membuang di luar. Tiga bulan kemudian Toha berhenti kerja karena ingin
mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku
sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri.


jangan segan2 berkunjung kembaLi ya sobat
EmoticonEmoticon