![]() |
Anto juga terkenal karena kekekaran
tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri,
karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya. Bagi Rina, kedatangan
Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam
naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu
‘pelajaran’ tambahan di Minggu siang ini.
“Sudah selesai Anto?”, Rina masuk
kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk
mengerjakan soal-soal yang diberikannya. “Hampir bu” “Kalau sudah nanti
masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..” “Iya..” “Bu Rina,
Saya sudah selesai”, Anto masuk ke ruang tengah sambil
membawapekerjaannya.
“Ibu dimana?” “Ada di kamar.., Anto
sebentar ya”, Rina berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot
BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu
bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang
menyembul. Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot,
melihat tubuh gurunya.
Rina membiarkan rambut panjangnya
tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka
murid-muridnya. “Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..” Muka Anto merah
karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah
dadanya. “Bagus bagus…, Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?”
“Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..” “oo…, begitu to?”
“Anto kamu mau menolong saya?”, Rina
merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya. “Apa Ibu?”, tubuh Anto
bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan
Rina yang satu mengusap-uasap daerah ‘vital’ nya. “Tolong Ibu ya…, dan
janji jangan bocorkan pada siapa–siapa”. “Tapi tapi…, Saya”. “Kenapa?,
oo…, kamu masih perawan ya?”.
Muka Anto langsung saja merah
mendengar perkataan Rina”Iya” “Nggak apa-apa”, Ibu bimbing ya. Rina
kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudian saling
berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang
menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa
merasakan puting susu Rina yang mengeras.
Lidah Rina menjelajahi mulut Anto,
mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah
puas, Rina kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu
demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan
akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya
ini.
“Lepaskan pakaiannmu Anto”, Rina
berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai
bagai sutera ditindihi tubuhnya. “Ahh cepat Anto”, Rina mendesah tidak
sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Pengetahuannya tentang seks hanya di dapatnya dari
buku dan video saja.
“Anto…, letakkan tanganmu di dada
Ibu”, Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun
naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina
yang montok itu. “Oohh…, enakk…, begitu caranya…, remas pelan-pelan,
rasakan putingnya menegang..” Dengan semangat Anto melakukan apa yang
gurunya katakan.
“Ibu…, Boleh saya hisap susu Ibu?”.
Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil
menunduk, “Boleh…, lakukan apa yang kamu suka”. Tubuh Rina menegang
ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya.
Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama
suaminya.
“Oohh…, jilat terus sayang…, ohh”,
Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya. Anto semakin buas
menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari
menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa
ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut. “mm…, nakal
kamu”, Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu.
“Sekarang coba kamu lihat daerah
bawah pusar Ibu”. Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang
membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di
belakangnya. “Coba kamu rasakan”, ia membimbing telunjuk Anto memasuki
vaginanya.
“Hangat Bu..” Bisa kamu rasakan ada
semacam pentil…?” “Iya..” “Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik
peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok”Pelan-pelan jari Anto
mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu. “Terus…, oohh…, ya…,
gosok…, gosok”, Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya
digosok-gosok oleh Anto.
“Kalo diginiin nikmat ya Bu?”, Anto
tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya. “Oohh…, Antoo…, mm”,
tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang,
sementara bibirnya merintih-rintih keenakan. Tangan Anto semakin berani
mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi.
Nafasnya yang semakin memburu
pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol. “Ooaahh…, Anntoo”, Tangan
Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan
otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati
kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.
“Hmm…, kamu lihai Anto…, Sekarang…,
coba kamu berbaring”. Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika
merasakan tangan lembut gurunya. “Wah…, wahh.., besar sekali”, tangan
Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera
saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina.
Ia segera menjilati penis muridnya
itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya
keras-keras, sehingga Anto merintih keenakan. “Ahh…, enakk…,enakk”, Anto
tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan
penisnya makin ke dalam kuluman Rina.
Gerakannya makin cepat seiring
semakin kerasnya hisapan Rina. “oohh Ibu…, Ibbuu” Muncratlah cairan mani
Anto di dalam mulut Rina, yang segera menjilati cairan itu hingga
tuntas. “Hmm…, manis rasanya Anto”, Rina masih tetap menjilati penis
muridnya yang masih tegak.
“Sebentar ya aku mau minum dulu”.
Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari
kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.
“Anto…, biar Ibu minum dulu”. “Tidak…, nikmati saja ini”, Anto yang
masih tegang berat mendorong Rina ke kulkas. Gelas yang dipegang rina
jatuh, untungnya tidak pecah.
Tangan Rina kini menopang tubuhnya
ke permukaan pintu kulkas. “Ibu…, sekarang!” “Ahhkk”, Rina berteriak,
saat Anto menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari
belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yang tadinya
pasif berubah menjadi liar.
“Antoo…, enakk…, ohh…, ohh”. Tubuh
Rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan
Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya.
Dan penisnya yang keras melumat
liang vaginanya. “Ibu menikmati ini khan”, bisik Anto di telinganya
“Ahh…, hh”, Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari
belakang. “Jawab…, Ibu”, dengan keras Anto mengulangi sodokannya.
“Ahh…,iyaa” “Anto…, Anto jangann…,
di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan
cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia
kemudian menyodokkan keras pinggulnya. “Uuhgghh”, penis Anto yang
berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina.
”Ahh”. Kedua insan itupun tergolek
lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan. Setelah kejadian
dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi
perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto
kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Ketika Rina berjalan menuju mobilnya
seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang
duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia
berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan
nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
“Bu Rina salam dari Anto”, Reza
melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya. “Terima kasih, boleh
saya masuk”, Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza
menghalangi pintu mobilnya. “Boleh…, boleh Bu saya juga ingin pelajaran
tambahan seperti Anto.” Langkah Rina terhenti seketika.
Namun otaknya masih berfungsi
normal, meskupun sempat kaget. “Kamu kan nilainya bagus, nggak ada
masalah kan..”, sambil duduk di balik kemudi. “Ada sedikit sih kalau Ibu
nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan
pelajaran Anto”, Reza tersenyum penuh kemenangan.
“Apa hubungannya?”, Keringat mulai
menetes di dahi Rina. “Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti
puas”. Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan
mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu
mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.
Setelah mandi air hangat, ia
bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk
pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia
mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka “Reza! Kenapa kamu
ngikuutin saya!”, Rina agak jengkel dengan muridnya ini.
“Boleh saya masuk?”. “Tidak!”. “Apa
guru-guru perlu tahu rahasiamu?”. “!!”dengan geram ia mempersilakan Reza
masuk. “Enak ya rumahnya, Bu”, dengan santainya ia duduk di dekat TV.
“Pantas aja Anto senang di sini”. “Apa hubunganmu dengan Anto?, Itu
urusan kami berdua”, dengan ketus Rina bertanya. “Dia teman dekat saya.
Tidak ada rahasia diantara kami berdua”
“Jadi artinya”, Kali ini Rina
benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa. “Bu, kalo saya
mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau?”, Reza bangkit dari
duduknya dan berdiri di depan Rina. Rina masih belum bisa menjawab
pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Rina masih belum bisa
menjawab pertanyaan muridnya itu.
Tubuhnya panas dingin. Belum sempat
ia menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah
beberapa saat penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya.
“Bagaimana Bu, lebih besar dari Anto khan?”. Reza ternyata lebih agresif
dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan
penisnya ke mulut Rina.
“Mmpfpphh”. “Ahh yaa…, memang Ibu
pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu…, nikmat kok” Rupanya nafsu
menguasai diri Rina, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia
segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu
dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan.
“Aduhh…, nikmat sekali Bu oohh”,
Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Rina, sementara
tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rina merasakan penis
yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar.
“oohh…, Ibu enakk…, enakk…, aahh”. Cairan mani Reza muncrat di mulut
Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu
hingga bersih. Kemudian ia berdiri.
“Sudahh…, sudah selesai kamu bisa
pulang”, Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani
Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis
yang besar itu masuk ke vaginanya. “Bu, ini belum selesai. Mari ke
kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.” “Apa! beraninya
kamu memerintah!”, Namun dalam hatinya ia mau.
Karenanya tanpa berkata-kata ia
berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja. Setelah ia di dalam, Rina
tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian
jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera
mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing
dasternya.
“Sini saya teruskan”, ia mendengar
Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing
dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya
jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga
merasakan penis pemuda itu diantara belahan pantatnya. “Gilaa…, besar
amat”, pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos.
Penis Reza digosok-gosokkan di
antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya.
Ketika jemari Reza meremas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun
keluar. “mm oohh”. Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu
tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke vagina Rina.
“Reza…, aahh…, aahh”, Tubuh Rina menegang saat pentil clitorisnya
ditekan-tekan oleh Reza.
“Enak Bu?”, Reza kembali berbisik di
telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu. Rina hanya
bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan,
dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya.
Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di
lebarkan. “Kata Anto ini posisi yang disukai Ibu”
“Ahhkk…, hmm…, hmmpp”, Rina
menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang
vaginanya dari belakang.” “Ugghh…, innii…, innii”, Reza medengus penuh
gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Rina. Rinapun
berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu
dilebarkan secara cepat.
“Adduuhh…, teruss.., teruss Rezaa…,
oohh”, Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza.
Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh
gurunya itu agar semakin cepat saja menelan penisnya.
“Oohh Rina…, Rinnaa”. Rina segera
merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras.
Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan. Rina
masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang
menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama
nafasnya.
Sementara itu vaginanya sangat
becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang
bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia
kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rina,
kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu.
“mm capek…, mm”, bibir Rina mendesah
saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan
terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya
kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk
memainkan clitorisnya.
“Rezz aahh”, Tubuh Rina bergetar,
menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya. “Bu…,
balik…, Reza pengin nih” “Nakal kamu ahh”, dengan tersenyum nakal, Rina
bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya.
Matanya terpejam menanti sodokan
penis Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya
dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang “Adduuhh…,
owwmm”, Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang
vaginannya yang telah licin melebar karena desakan penis Reza.
“Bu Rina nikmat lho vagina Ibu…,
ketat”, Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. “mm…, aahh…,
ahh…, ahhkk”, Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia
berteriak lirih seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk
mengimbangi serangan Reza.
Kenikmatan ia peroleh juga dari
remasan muridnya itu. “Ayoo…, aahh.., ahh… Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr
lagi…”. Gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza. Tangan Reza
beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya
tidak lagi “doggy style”, melainkan kini Rina menduduki penisnya dengan
membelakangi dirinya.
Reza kini telentang di tempat tidur
yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering. “Ooww..”, Teriakan
Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya.
Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati
kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sementara Reza sendiri tetap
menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Rina yang makin becek. “Ayoo…, makin
dalam dalamm”. “Ahh.., aahh…, aahh..”, Rezapun mulai berteriak-teriak.
“Mau kelluuaarr” Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza
menyemprot dalam liang vaginanya. Rina kemudian ambruk menindih tubuh
Reza yang basah oleh keringat.
Sementara diantara kaki-kaki mereka
mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka. “Bu Rina…, sungguh luar
biasa, Coba kalau Anto ada disini sekarang”. “mm memangnya kamu mau
apa”, Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya
mengusap-usap puting Reza. “Kita bisa main bertiga, pasti lebih
nikmat..” Rina tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya
dipenuhi kebingungan. Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga.
Dengan demikian Rina harus berpisah
dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus
pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di sana.


jangan segan2 berkunjung kembaLi ya sobat
EmoticonEmoticon